Jika anda pernah kehilangan kekasih…
Jika kesedihan meliputi hatimu karena kehilangan buah hati tercinta….
Air mata tak kunjung berhenti karena kehilangan istri tercinta…
Ibu yang tersayang dan penyayang telah pergi meninggalkan kenangan…
Sahabat yang setia dan siap berkorban telah berpisah dengan dunia….
Maka ingatlah…..semuanya pernah dialami oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
Sungguh merupakan perkara yang
sangat menyedihkan dan sangat berat tatkala seseorang harus kehilangan
orang yang dicintainya, baik anak yang disayang, apalagi berbakti, ibu
yang penyayang, sahabat dekat, istri tercinta dan lain-lain.
Allah berfirman
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS Al-Baqoroh : 155)
As-Syaikh As-Sa'di rahimahullah berkata :
{ وَالأنْفُسِ } أَيْ: ذَهَابُ الأَحْبَابِ مِنَ الْأَوْلاَدِ، وَالأَقَارِبِ، وَالأَصْحَابِ
"(Dan jiwa) yaitu dengan perginya orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, kerabat, maupun sahabat" (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 155)
Tentunya
semakin tinggi iman seseorang maka akan semakin tinggi ujian yang akan
dihadapinya. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya ujian-ujian yang pernah
dihadapi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ujian yang
sangat berat. Nabi telah diuji dengan ujian-ujian yang berat dan
bermacam-macam. Diantara ujian-ujian tersebut adalah perginya
orang-orang yang dikasihi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam telah kehilangan ayahnya sebelum
kelahirannya…ia tidak pernah merasakan belaian ayahnya…tidak pernah
melihat senyuman ayahnya…
Demikian pula ia telah kehilangan
ibunya yang sangat beliau sayangi tatkala berusia enam tahun. Tatkala
sang ibu membawanya untuk bersafar menziarahi kerabat/paman-paman
ayahnya dari Bani ‘Adi bin Najjaar di kota Madinah. Tatkala di tengah
perjalanan pulang ke Mekah di suatu daerah yang bernama Abwaa' (antara
kota Madinah dan Mekah) maka sang ibu tercinta pun sakit. Hingga
akhirnya sang ibupun meninggal di tempat tersebut (lihat As-Siiroh
An-Nabawiyah fi Dloui al-Mashoodir al-Ashliyah hal 110). Semua itu
dilihat dan disaksikan oleh sang kecil Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam. Kita bisa bayangkan bagaimana kesedihan yang meliputi hati si
kecil Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala menyaksikan di
hadapannya sang ibu yang sakit parah hingga meninggalkan dunia ini….
Ini semua kesedihan yang telah dirasakan oleh Nabi semenjak kecil beliau.
Sebagaimana manusia yang lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga
mengalami apa yang dirasakan oleh manusia yang lain, seperti
kegembiraan, kesedihan, keriangan, kesempitan, kelapangan, sehat, sakit,
kehidupan dan kematian. Karenanya jika Nabi mengalami kesedihan maka
terkadang air mata beliau mengalir…
PERTAMA : Tangisan Nabi tatkala putranya Ibrahim meninggal
Sungguh
berat ujian yang dihadapi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
seluruh anak beliau meninggal sebelum beliau, kecuali Fathimah
radhiallahu 'anhaa yang meninggal setelah meninggalnya Nabi.
Jika
kehilangan seorang anak yang dicintai saja sudah terasa sangat berat
maka bagaimana lagi jika kehilangan enam orang anak sebagaimana yang
dialami oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?. Karenanya Allah
menyediakan ganjaran yang besar bagi seseorang yang bersabar karena
kehilangan buah hatinya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا
مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلائِكَتِهِ :
قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي ؟ فيقولونَ : نَعَمْ . فيقولُ : قَبَضْتُمْ
ثَمَرَة فُؤَادِهِ ؟ فيقولونَ : نَعَمْ . فيقولُ : مَاذَا قَالَ عَبْدِي ؟
فيقولونَ : حَمدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فيقول اللهُ تَعَالَى : ابْنُوا
لِعَبْدِي بَيْتاً في الجَنَّةِ ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ
"Jika
anak seseorang meninggal maka Allah berkata kepada para malaikatnya,
"Apakah kalian telah mengambil nyawa putra hambaku?", mereka menjawab,
"Iya". Allah berkata, "Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?",
mereka menjawab, 'Iya". Allah berkata, "Apakah yang diucapkan oleh
hambaKu?", mereka berkata, "HambaMu memujimu dan beristrjaa'
(mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji'uun)". Allah berkata,
"Bangunkan bagi hambaKu sebuah rumah di surga dan namakan rumah tersebut
dengan "Rumah pujian" (HR At-Thirmidzi no 1021 dan dishahihkan oleh
Al-Albani di As-Shahihah no 1408)
Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dianuegrahi enam orang putra-putri yaitu Qosim,
kemudian Zainab, kemudian Ruqooyah, kemudian Ummu Kultsuum, kemudian
Fathimah (dan ada yang berpendapat bahwa Ummu Kaltsuum lebih muda
daripada Fathimah), kemudian Abdullah yang dilahirkan setelah kenabian.
Kedua putra beliau Qosim dan Abdullah meninggal tatkala masih kecil,
adapun keempat putri beliau seluruhnya masuk Islam setelah kenabian
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
Maka sungguh bisa
dibayangkan kerinduan Nabi untuk memiliki anak laki-laki, karena yang
tersisa hanyalah anak-anak perempuannya. Akhirnya Allah menganugerahkan
beliau dari Maariyah Al-Qibthiyah seorang putra yang beliau namakan
Ibrahim.
Tatkala lahir Ibrahim maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan penuh gembira mengabarkannya kepada para sahabat.
وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيْمَ
"Malam ini aku dianugerahi seorang putra, aku menamakannya dengan nama bapakku, Ibrahim" (HR Muslim no 3315)
Dan
sebagaimana adat kaum Arab jika ada anak mereka yang lahir maka
dicarikan juga baginya ibu susuan. Karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam menyerahkan Ibrahim kepada ibu susuannya Ummu Saif Khaulah binti
Al-Mundzir Al-Anshooriyah radhiallahu 'anhaa, yang memiliki seorang
suami seorang pandai besi yang dikenal dengan Abu Saif. Mereka tinggal
di daerah awali di Madinah.
Nabi sangat menyayangi Ibrahim,
bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan jauh ke daerah ‘awali
hanya untuk mencium putranya tersebut.
Anas Bin Malik –semoga Allah meridhoinya- berkata :
«مَا
رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»، قَالَ: «كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ
فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ
فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا،
فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ»
"Aku tidak pernah
melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Putra Nabi (yang bernama)
Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah ‘Awaali di kota Madinah. Maka
Nabipun berangkat (*ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama
beliau. lalu beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan
penuh asap. Suami Ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabipun mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali" (HR Muslim no 2316)
Akan
tetapi kegembiraan dan kebahagiaan ini tidak berlangsung lama karena
tatkala Ibrahim berumur 16 atau 17 bulan iapun sakit keras hingga
meninggal dunia (lihat Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim karya An-Nawawi
15/76).
Anas bin Malik berkata:
أنَّ رسول الله - صلى الله
عليه وسلم - دَخَلَ عَلَى ابْنِهِ إبْرَاهيمَ - رضي الله عنه - ، وَهُوَ
يَجُودُ بِنَفسِهِ ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رسولِ الله - صلى الله عليه وسلم -
تَذْرِفَان . فَقَالَ لَهُ عبدُ الرحمانِ بن عَوف : وأنت يَا رسولَ الله
؟! فَقَالَ : (( يَا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ )) ثُمَّ أتْبَعَهَا
بأُخْرَى ، فَقَالَ : (( إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ
نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ
لَمَحزُونُونَ ))
"Rasulullah masuk (*di rumah ibu susuan
Ibrahim) menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut
bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu
'alaihi wa sallampun mengalirkan air mata.
Abdurrahman bin 'Auf
berkata, "Engkau juga menangis wahai Rasulullah?". Maka Nabi berkata,
"Wahai Abdurrahman bin 'Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)". Kemudian
Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, "Sungguh
mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali
yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah
denganmu wahai Ibrahim"(HR Al-Bukhari no 1303)
Nabi juga berkata
إِنَّ إبْرَاهِيْمَ ابْنِي وَإِنَّهُ مَاتَ فِي الثَّدْيِ وَإِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمِّلاَنِ رَضَاعَهُ فِي الْجَنَّةِ
"Sesungguhnya
Ibrahim putraku meninggal dalam masa persusuan, dan sesungguhnya
baginya di surga dua orang ibu susuan yang akan menyempurnakan
susuannya" (HR Muslim no 2316)
Kita bisa membayangkan bagaimana
kesedihan yang dirasakan Nabi…putra yang sangat disayanginya…yang sangat
diharapkan setelah meninggalnya kedua putranya dahulu…, meninggal dalam
keadaan menggeliat menghadapi sakaratul maut di pangkuan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam…inilah yang membuat beliau mengalirkan air
mata
KEDUA : Tangisan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala putrinya Ummu Kaltsuum meninggal.
Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata
شَهِدْنَا
بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ فَرَأَيْتُ
عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ فَقَالَ : هَلْ فِيْكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَمْ
يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ أَبُوْ طَلْحَةَ : أَنَا قَالَ : فَانْزِلْ
فِي قَبْرِهَا فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا فَقَبَرَهَا
"Kami
menghadiri pemakaman putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
Rasulullah duduk di atas mulut kuburan (*yang sudah digali). Aku melihat kedua mata beliau mengalirkan air mata,
dan beliau berkata, "Apakah ada diantara kalian yang malam ini belum
berbuat (*berhubungan dengan istrinya)?. Abu Tolhah berkata, "Saya".
Nabipun berkata, "Turunlah engkau di kuburan putriku!". Abu Tholhah lalu
turun dan menguburkan putri Nabi" (HR Al-Bukhari no 1342)
Putri
Nabi yang dikuburkan dalam hadits ini adalah Ummu Kaltsuum radhiallahu
'anhaa dan bukan Ruqoyyah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak menghadiri wafatnya Ruqoyyah karena perang Badar (Lihat Syarah
Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Baththool 3/328, Fathul Baari 3/158, dan
Irsyaadus Saari, karya Al-Qosthlaani 2/438)
KETIGA : Tangisan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala melihat salah seorang cucunya menggeliat menghadapi sakaratul maut
Usaamah bin Zaid rahdiallahu 'anhu berkata :
أرْسَلَتْ
بنْتُ النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - إنَّ ابْني قَد احْتُضِرَ
فَاشْهَدنَا ، فَأَرْسَلَ يُقْرىءُ السَّلامَ ، ويقُولُ : ((إنَّ لله مَا
أخَذَ وَلَهُ مَا أعطَى وَكُلُّ شَيءٍ عِندَهُ بِأجَلٍ مُسَمًّى
فَلتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ )) فَأَرسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيهِ
لَيَأتِينَّهَا . فقامَ وَمَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ ، وَمُعَاذُ بْنُ
جَبَلٍ ، وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابتٍ ، وَرجَالٌ - رضي
الله عنهم - ، فَرُفعَ إِلَى رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - الصَّبيُّ
، فَأقْعَدَهُ في حِجْرِهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعُ ، فَفَاضَتْ عَينَاهُ
فَقالَ سَعدٌ : يَا رسولَ الله ، مَا هَذَا ؟ فَقالَ : (( هذِهِ رَحمَةٌ
جَعَلَها اللهُ تَعَالَى في قُلُوبِ عِبَادِهِ ))
"Salah seorang
putri Nabi mengirimkan utusan kepada Nabi untuk mengabarkan bahwa :
"Putraku sedang sakaratul maut, maka hendaknya engkau datang". Nabipun
mengirim utusan kepada putrinya tersebut dan mengirim salam kepadanya
dan berkata, "Sesungguhnya milik Allah apa yang Allah ambil, dan milik
Allah juga apa yang telah Allah anugerahkan, dan segala sesuatu di
sisiNya ada waktu dan ketentuannya, maka hendaknya putriku bersabar dan
mengaharapkan pahala dari Allah".
Akan tetapi putri Nabi kembali
mengirimkan utusannya mengabarkan kepada Nabi bahwasanya putrinya telah
bersumpah agar Nabi datang. Maka Nabipun datang bersama Sa'ad bin
'Ubaadah, Mu'adz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid bin Tsaabit dan
beberapa sahabat lainnya radhiallahu 'anhum. Lalu sang anakpun diangkat
ke Nabi, Nabipun meletakkannya di pangkuannya sementara sang anak
meronta-ronta. (Melihat hal itu) maka kedua mata Nabipun mengalirkan
tangisan. Sa'ad berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau menangis?".
Nabi
berkata, "Ini adalah rahmat (kasih sayang) yang Allah jadikan di hati
para hambaNya" (HR Al-Bukhari no 1284 dan Muslim no 923)
Para
ulama telah berselisih tentang siapakah putri Nabi yang disebutkan dalam
hadits ini?, karenanya mereka juga berselisih siapakah cucu Nabi yang
disebutkan dalam hadits ini-?
Ada yang mengatakan bahwa putri
Nabi tersebut adalah Ruqoyyah istri Utsmaan bin 'Afaan, dan cucu nabi
tersebut adalah Abdullah bin 'Utsmaan. Ada yang mengatakan bahwa putri
Nabi tersebut adalah Fathimah istri Ali bin Abi Tholib, dan cucu Nabi
tersebut adalah Muhsin bin Ali bin Abi Thoolib.
Dan ada yang
mengatakan bahwa putri Nabi tersebut Zainab istri Abul 'Aash. Dan Zainab
hanya memiliki dua anak dari Abul 'Aash yaitu Ali dan Umaimah. Pendapat
yang dipilih oleh Ibnu Hajar bahwasanya cucu nabi yang disebutkan dalam
hadits ini adalah Umamah binti Abul 'Aaash. Akan tetapi Ibnu Hajar
berpendapat bahwa Umamah setelah didatangi Nabi akhirnya sembuh dan
tidak meninggal karena para ulama telah sepakat bahwasanya Umamah bin
Abil 'Aash hidup setelah meninggalnya Nabi, bahkan Umamah dinikahi oleh
Ali bin Abi Tholib setelah wafatnya Fathimah radhiallahu 'anhaa. (Fathul
Baari 3/156-157)
KEEMPAT : Tangisan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala melihat jasad pamannya Hamzah bin Abdhil Muththolib tercabik-cabik.
Hamzah paman Nabi dan juga sekaligus saudara sepersusuan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah Asadullah (singa Allah)
seseorang yang sangat hebat dalam pertempuran di medan jihad.
Tatkala
terjadi perang Badar diantara yang terbunuh oleh Hamzah dari kalangan
musyrikin Mekah adalah Thu'aimah bin 'Adi, paman dari Jubair bin
Muth'im.
Akhirnya Jubair bin Muth'impun ingin membalas dendam
kepada Hamzah, akhirnya ia memerintahkan budaknya yang bernama Wahsyi
dari Habasyah untuk membunuh Hamzah dengan imbalan dia akan
dimerdekakan.
Wahsyi menuturkan kisahnya :
إِنَّ حَمْزَةَ
قَتَلَ طُعَيْمَةَ بْنَ عَدِىٍّ بِبَدْرٍ فَقَالَ لِى مَوْلاَىَ جُبَيْرُ
بْنُ مُطْعِمٍ ِإِنْ قَتَلْتَ حَمْزَةَ بِعَمِّى فَأَنْتَ حُرٌّ. فَلَمَّا
خَرَجَ النَّاسُ يَوْمَ عِينِينَ خَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ إِلَى الْقِتَالِ
فَلَمَّا أَنِ اصْطَفُّوا لِلْقِتَالِ - قَالَ - خَرَجَ سِبَاعٌ فقال :
مَنْ مُبَارِزٌ؟، قَالَ فَخَرَجَ إِلَيْهِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ فَقَالَ يَا سِبَاعُ يَا ابْنَ أُمِّ أَنْمَارٍ يَا ابْنَ
مُقَطِّعَةِ الْبُظُورِ أَتُحَادُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ثُمَّ شَدَّ
عَلَيْهِ فَكَانَ كَأَمْسِ الذَّاهِبِ وَكَمَنْتُ لِحَمْزَةَ تَحْتَ
صَخْرَةٍ فَلَمَّا دَنَا مِنِّى رَمَيْتُهُ بِحِرْبَتِي فَأَضَعُهَا فِى
ثُنَّتِهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ وَرِكَيْهِ، فَكَانَ ذَلِكَ
الْعَهْدُ بِهِ فَلَمَّا رَجَعَ النَّاسُ رَجَعْتُ مَعَهُمْ فَأَقَمْتُ
بِمَكَّةَ حَتَّى فَشَا فِيهَا الإِسْلاَمُ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى
الطَّائِفِ فَأَرْسَلوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
رُسُلاً فقيل لي إِنَّهُ لاَ يَهِيجُ لِلرُّسُلِ.
قَالَ َخَرَجْتُ
مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
فَلَمَّا رَآنِى قَالَ « أَنْتَ وَحْشِىٌّ ». قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ «
أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ ». قُلْتُ قَدْ كَانَ مِنَ الأَمْرِ مَا
بَلَغَكَ قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ عَنِّى وَجْهَكَ ».
فَرَجَعْتُ فَلَمَّا تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
وَخَرَجَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ قُلْتُ لأَخْرُجَنَّ إِلَى مُسَيْلِمَةَ
لَعَلِّى أَقْتُلُهُ فَأُكَافِئَ بِهِ حَمْزَةَ. فَخَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ
فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِمْ مَا كَانَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِى ثَلْمَةِ
جِدَارٍ كَأَنَّهُ جَمَلٌ أَوْرَقٌ ثَائِرٌ رَأْسُهُ فَأَرْمِيهِ
بِحَرْبَتِى فَأَضَعُهَا بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ
كَتِفَيْهِ وَدَبَّ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَضَرَبَهُ
بِالسَّيْفِ عَلَى هَامَتِهِ.
"Sesungguhnya Hamzah telah membunuh
Thu'aimah bin 'Adiy di perang Badar, maka Tuanku Jubair bin Muth'im
berkata kepadaku, "Jika engkau membunuh Hamzah sebagai balasan terhadap
pamanku maka engkau bebas merdeka". Maka tatkala orang-orang (kaum kafir
Mekah) keluar untuk perang Uhud maka akupun keluar bersama mereka untuk
berperang. Maka tatkala mereka telah berbaris (*antara pasukan kafir
dan pasukan kaum muslimin) untuk bertempur maka keluarlah Sibaa' dan
berkata, "Siapa yang siap berduel melawanku?". Maka tantangan inipun
disambut oleh Hamzah bin Abdil Muththolib, lalu ia berkata ; "Wahai
sibaa', wahai putra Ummu Anmaar, Wahai putra Tukang sunatnya para
wanita" (*karena ibu Sibaa' adalah seorang wanita yang dikenal suka
menyunat bayi-bayi perempuan), apakah engkau menentang Allah dan
Rasulnya?". Lalu Hamzahpun memeranginya dengan sengit sehingga tewaslah
Sibaa' seakan-akan ia tidak pernah ada.
Akupun bersembunyi di
belakang sebuah batu untuk membunuh Hamzah. Tatkala Hamzah sudah dekat
denganku maka akupun melemparnya dengan tombakku hingga mengenai bagian
bawah pusarnya hingga keluar kebagian panggul belakangnya. Itulah
kematian Hamzah.
Tatkala orang-orang kembali ke Mekah akupun
pulang bersama mereka lalu aku tinggal di Mekah hingga islampun
tersebar. Lalu akupun pergi ke Thoif. Lalu penduduk Thoif mengirim para
utusan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk masuk Islam, dan
dikatakan kepadaku bahwasanya para utusan tersebut sama sekali tidak
akan terganggu. Maka akupun pergi bersama mereka (para utusan tersebut)
hingga akupun menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tatkala
Nabi melihatku maka ia berkata, "Apakah engkau Wahsyi?". Aku berkata,
"Iya". Nabi berkata, "Engkau yang telah membunuh Hamzah?", Aku berkata,
"Perkaranya sebagaimana berita yang sampai kepadamu". Nabi berkata,
"Jika engkau mampu agar tidak menampakan wajahmu di hadapanku?". Aku
lalu kembali ke Thoif. Dan tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam wafat dan muncul Musailamah Al-Kadzdzab (*yang mengaku nabi baru)
maka aku berkata, "Sungguh aku akan keluar untuk membunuh Musailamah,
semoga aku membayar kesalahanku membunuh Hamzah". Lalu akupun keluar
bersama orang-orang dan ternyata kejadiannya sebagaimana yang terjadi
(*yaitu terjadi peperangan dan terbunuh banyak sahabat). Tiba-tiba
Musailamah berdiri di sela-sela dinding, seakan-akan ia adalah seekor
onta yang abu-abu, rambutnya berdiri. Maka akupun melemparnya dengan
tombakku maka mengenai dadanya hingga tembus ke belakang dan keluar
diantara dua punggungnya. Lalu datanglah salah seorang dari kaum Anshoor
lalu memukulkan pedangnya ke kepala Musailamah" (HR Al-Bukhari no 4072)
Tombak
yang digunakan Wahsyi untuk membunuh Musailamah Al-Kadzdzab itulah
tombak yang telah ia gunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdil Muttholib.
Wahsyi berkata,
فَرَبُّكَ أَعْلَمُ أَيُّنَا قَتَلَهُ؟ فَإِنْ أَكُ قَتَلْتُهُ فَقَدْ قَتَلْتُ خَيْرَ النَّاسِ وَشَرَّ النَّاسِ
"Dan
Robmu yang lebih tahu siapa diantara kami berdua yang telah membunuh
Musailamah, jika aku yang telah membunuhnya maka sungguh aku telah
membunuh manusia terbaik dan manusia terburuk" (Diriwayatkan oleh
At-Toyaalisi dalam musnadnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar
dalam Fathul Baari 7/371)
Tatkala sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kabar meninggalnya Hamzah maka Nabipun menangis.
Jabir radhiallahu 'anhu berkata :
لمَاَّ بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَتْلُ حَمْزَةَ بَكَى، فَلَمَّا نَظَرَ إِلَيْهِ شَهِقَ
"Tatkala
sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kabar tewasnya Hamzah
maka Nabipun menangis. Dan tatkala Nabi melihat jasadnya maka Nabipun
terisak-isak keras" (Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaaid 6/171 berkata :
رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَفِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنِ عَقِيْلٍ
وَهُوَ حَسَنُ الْحَدِيْثِ عَلَى ضَعْفِهِ "Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar,
dan pada sanadnya ada Abdullah bin Muhammad bin 'Aqiil, dan dia adalah
seorang yang haditsnya baik meskipun ia seorang yang dho'if/lemah)
Dalam riwayat lain :
وَلَمَّا رَأَى مَا مُثِّلَ بِهِ شَهِقَ
"Tatkala
Nabi melihat jasad Hamzah yang tercabik-cabik maka beliaupun terisak
keras" (HR Al-Haakim dalam Al-Mustadrok no 4900, dan Adz-Dzahabi berkata
: "Shahih")